harga Beras Melambung, Pasar Tradisional Mulai Sepi Pembeli
| harga Beras Melambung, Pasar Tradisional Mulai Sepi Pembeli |
Kenaikan harga beras di pasar tradisional mulai dirasakan masyarakat, memengaruhi pola belanja warga dan kondisi pasar. Pedagang melaporkan penurunan jumlah pembeli karena daya beli masyarakat menurun.
Lonjakan Harga Beras
Sejak awal bulan, harga beras mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp 15.000–Rp 18.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas beras. Lonjakan harga ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pasokan terbatas, biaya transportasi meningkat, dan cuaca ekstrem yang memengaruhi produksi padi.
Para pedagang pasar tradisional menyebut omzet mereka menurun sekitar 20–30% dibandingkan minggu sebelumnya. Warga lebih selektif dalam membeli beras, bahkan beberapa mulai mencari alternatif seperti beras kualitas lebih rendah atau menunda pembelian.
Seorang pedagang, Budi (45), mengungkapkan, “Biasanya ramai, sekarang banyak pembeli yang hanya membeli sedikit karena harganya mahal. Ini cukup memengaruhi pendapatan kami.”
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berjanji memantau pasokan dan harga beras di pasar. Langkah stabilisasi termasuk mengatur distribusi, impor terbatas jika diperlukan, dan koordinasi dengan petani lokal agar harga tidak terus melambung.
Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam membeli beras, memanfaatkan stok di rumah, dan memprioritaskan kebutuhan pokok lainnya. Pemerintah juga menekankan pentingnya mengantisipasi dampak kenaikan harga terhadap keluarga berpenghasilan rendah.